DONASI PKRT PEDULI Tahap 3 Tembus Hujan dan Medan Ekstrem Gunungmalang

Purbalingga — Kamis, 19 Februari 2026, bertepatan dengan awal puasa Ramadhan 1447 Hijriyah, menjadi hari yang tak sekadar menandai dimulainya ibadah, tetapi juga menguatkan makna kepedulian. Di pagi yang masih berselimut harap, Tim PKRT PEDULI memulai Donasi Tahap 3 dengan satu tekad: menghadirkan kembali harapan di tanah yang porak-poranda diterjang banjir bandang di kaki Gunung Slamet.
Sejak pagi, tim meluncur menuju Toko Rejomulyo untuk melakukan pembelanjaan material berupa Hebel beserta perekatnya sebanyak 3 truk, serta 3 torn air—1 unit berkapasitas 1200 liter dan 2 unit berkapasitas 550 liter. Dukungan luar biasa kembali diberikan oleh Pak Bowo selaku pemilik Toko Rejomulyo, yang tak henti menunjukkan keberpihakannya pada gerakan kemanusiaan ini. Berkat sinergi yang terjalin, pengiriman bahkan harus dilakukan dalam 4 rit demi memaksimalkan kuantitas bantuan yang bisa disalurkan.
Seperti tahap-tahap sebelumnya, keberangkatan dimulai dari basecamp PKRT di Jl. DI Panjaitan No.92 Purbalingga Lor. Sebelum meluncur, armada truk terlebih dahulu dipasangi banner bertuliskan “DONASI PKRT PEDULI” serta bendera PKRT di sisi kanan dan kiri kendaraan. Seusai Dzuhur, tim melakukan foto bersama di depan armada yang siap berangkat—sebuah potret kebersamaan yang kelak akan menjadi saksi perjalanan penuh makna.
Sepanjang perjalanan menuju Desa Serang dan Desa Kutabawa, bendera PKRT terus berkibar. Namun langit perlahan berubah sendu. Hujan mulai turun di tengah perjalanan, seakan menguji langkah pengabdian. Sesampainya di Posko Induk Desa Serang, hujan masih mengguyur deras, membasahi bumi yang sebelumnya telah lebih dulu tersayat banjir.
Kehadiran Tim PKRT PEDULI disambut hangat oleh Pj Logistik Mbak Uut beserta perangkat Desa Serang. Koordinasi cepat dilakukan untuk menentukan titik penurunan material. Disepakati bahwa bantuan akan dialokasikan ke Dukuh Gunungmalang—wilayah yang terdampak cukup parah.
Sebelum menuju Gunungmalang, tim terlebih dahulu singgah di Desa Kutabawa untuk menyerahkan 3 unit torn air guna melengkapi sarana penampungan air bersih. Beberapa hari sebelumnya, PKRT juga telah menyerahkan 1 torn berkapasitas 1200 liter. Serah terima dilakukan bersama Pak Wahyu yang mewakili pihak desa, dilanjutkan dengan foto bersama sebagai simbol kebersamaan dan penguatan solidaritas.
Perjalanan menuju Dukuh Gunungmalang menjadi momen yang tak mudah dilupakan. Jalanan sempit, sebagian rusak akibat banjir, berkelok dan menanjak tajam—memacu adrenalin setiap pengemudi. Di sepanjang tanjakan, pemandangan memilukan terhampar nyata: bekas terjangan banjir yang begitu dahsyat, rumah dua lantai yang hilang tersapu arus, bongkahan batu besar yang berserakan, serta batang-batang pohon raksasa yang tercabut dari akarnya. Alam seperti menyisakan cerita duka yang belum sepenuhnya reda.
Sesampainya di lokasi, tim lokal bahu-membahu menurunkan muatan material dari truk. Sementara itu, Tim PKRT PEDULI menyempatkan diri bersilaturahmi ke rumah Pak Karpono selaku Kepala Dusun Gunungmalang untuk menggali informasi lebih dalam mengenai kejadian yang melanda wilayah tersebut.
Tak jauh dari sana, tim juga mengunjungi posko pengungsian. Hingga hari itu, masih terdapat 9 keluarga yang bertahan di pengungsian, sementara sebagian lainnya menumpang di rumah sanak saudara. Posko tersebut memanfaatkan gedung pertemuan yang sebenarnya masih dalam tahap pembangunan. Meski belum rampung, dinding dan atap telah terpasang, lalu dimodifikasi dengan sekat-sekat kamar lengkap dengan pintu dan kunci. Sebuah ikhtiar sederhana namun penuh martabat—agar para pengungsi tetap memiliki ruang privasi di tengah keterbatasan.
![]() |
| Posko Pengungsian Gunungmalang |
Di tengah hujan, medan berat, dan waktu yang semakin senja, pengiriman sisa material terpaksa dijadwalkan ulang untuk hari berikutnya. Tanpa pengawalan langsung dari tim, bantuan akan tetap dikirimkan sebagai bentuk komitmen yang tak boleh surut.
Donasi Tahap 3 ini bukan sekadar pengiriman hebel, perekat, dan torn air. Ia adalah pengiriman harapan. Ia adalah bukti bahwa di awal Ramadhan, saat umat menahan lapar dan dahaga, ada pula yang menahan lelah demi menguatkan sesama.




















.jpeg)







